If I COULD
SEE YOU AGAIN
Author : Nana
Main Cast : Cha Do Hyun & Heni
Genre : buffetings, sad ending
Happy reading…
Kenapa
? Kenapa ini bisa
terjadi pada sahabatku ?
Sahabat yang selalu
menemaniku. Sahabat yang
selalu mengajariku. Sahabat
yang tidak meninggalkanku apapun
yang terjadi. Jika
aku bisa melihatnya
lagi…
Tiga…dua…satu
!! Ciiiss…!!! Selalu
saja begitu. Padahal
kita di sini
bukan untuk liburan
kan ? Hmm, kami,
Tim Light ditugaskan untuk
membantu mengamankan warga
sipil yang terkena
dampak serangan militer.
Ya, walau jauh
dari Negara tercinta.
Tepatnya kami ditugaskan
di wilayah perbatasan
Indonesia-Malaysia.
Cuaca panas
perbatasan yang berbeda
dengan negara asal
membuat kami harus
betah-betah tinggal di
negara ini selama
delapan bulan lamanya.
Keadaan kota yang
memprihatinkan, membuat para
relawan berbondong-bondong membantu
warga sipil yang
kekurangan pendidikan, kesehatan,
dan lain-lain.
Dua setengah
bulan sudah kami
menjadi relawan di
daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Banyak
anak-anak yang tidak
sekolah karena ketidakmampuan untuk
membayar uang sekolah.
Banyak juga relawan
yang ditugaskan untuk
membantu anak-anak yang
kurang mampu tersebut.
Kulihat ada
tenda asing berdiri
di dekat sawah.
Pelan-pelan kudekati tenda
itu. Terdengar suara
anak-anak tertawa riang
yang membuatku semakin
penasaran. Tanpa mengucap
salam aku memasuki
tenda itu. Terlihat
sesosok perempuan berjilbab
yang sedang mengajar.
“
Assalamu’alaikum, “ kata perempuan itu.
Aku yang tidak
tahu apa-apa hanya
memandang aneh wajah
perempuan tersebut. Sekali
lagi ia memberiku
salam, “ Assalamu’alaikum. “
Tapi karena aku
tidak tahu menahu
soal bahasa itu,
jadi hanya kujawab
“ Ya. “ Ia juga
memandangku aneh lalu
tertawa. Setelah itu
ia memberiku jawaban
yang harusnya kujawab
tadi. “ Jawabannya Waalaikumsalam. “ Sontak
anak-anak yang ada di tenda
langsung menertawaiku. “ Hush ! Jangan begitu,
mungkin kakak itu
belum tahu !” kata perempuan
tersebut.
“
Maaf, ada urusan
apa tim medis
militer dating ke
tempat kumuh ini ?” sambil
mendekatiku yang ada
di belakang tenda. Belum sempat
aku menjawab pertanyaannya, dia
sudah memperkenalkan diri. “ My
name Heni, and
you ?” Kebetulan aku
juga bisa bahasa
Indonesia, jadi kujawab
saja dengan bahasa
nasional dia. “ Namaku
Cha Do Hyun,
panggil saja Do
Hyun. Aku dari
Korea. Aku ditugaskan
di sini untuk
merawat kesehatan warga
sipil. Sepertinya kita
seumuran. Berapa umurmu ?”
dia kaget karena
aku menjawab dengan bahasa
Indonesia. Akhirnya dia
menjawab pertanyaanku. “
Umurku 26 tahun. “ “ Tuh kan ! Kita
seumuran !” kataku.
Dimulai dari
pertemuan tidak sengaja
itu kami menjadi
sahabat. Dia selalu
mengajariku tentang agama
Islam. Setiap hari
kudatangi tenda itu untuk melihatnya
mengajar secara sukarela.
Dan setiap hari
pula ia akan
mengaajarkanku agama mayoritas
orang Indonesia. Lama-lama
aku semakin tertarik
dengan bahasa yang
diajarkannya padaku.
Lalu aku
mulai bertanya kepadanya, “ Kenapa kamu
memilih mengajar secara
sukarela dibanding mengajar
di sekolah ? Dan,
nantinyakan akan dibayar
pemerintah ! Hidupmu akan
terjamin dengan itu !”
“ Sukarela tidak hanya
mendapat pahala, tetapi
juga mendapat iilmu.
Ilmu yang kita
dapat, dapat kita
terapkan di kehidupan
masyarakat, juga berbagi
ilmu akan dapat
membatu meningkatkan pendidikan
bagi orang yang
kuran akan pendidikan
karena biaya sekolah
yang mahal. “ jawabnya
panjang supaya aku
bisa mengertidalam sekali
tangkap.
Hampir tujuh
bulan sudah kami
bersama. Suka duka
kami lewati. Sekarang,
hanya kenangan yang
dapat kuingat. Selang
oksigen yang terpasang
di kedua lubang
hidungnya. Hanya bunyi
alat pendeteksi detak
jantung yang dapat
kudengar. Pendeteksi detak
jantung yang menunjukkan
gari-garis tak berturan
dan angka yang
tak normal, berbeda
dengan detak jantung
orang di sekitarnya.
Menunjukkan angka 58
yang membuatnya koma
selama 26 hari.
Dan, tiap
hari pula aku
datang ke rumah
sakit untuk menengok
sahabatku dan mengobrol
dengannya. Walaupun ia
tidak membuka kedua
matanya, aku tetap
bercerita tentang muruidnya
yang merindukan sosok
seorang guru seperti
dirinya.
Selang waktu
beberapa menit,detak jantungnya
semakin melemah. Kupanggil
dokter untuk memeriksa
keadaannya. Tapi karena
penyakit kronis yang
dideritanya membuat nyawanya
tidak tertolong lagi.
“ Kenapa kau meninggalkanku Heni ?
Kita baru saja
bertemu kemarin ! Kita…kita
janji akan lebih
giat mengajar untuk
anak-anak itu kan ?
Apa kau ingat ?
Soal pertama kali
aku tanya mengapa
kau ingin jadi
guru sukarela. Apa
kau ingat ?”
Sejak saat
itu aku mulai
membantu mengajar untuk
anak-anak yang diajar
oleh Heni. Dan
sudah saatnya aku
pulang ke negara
asalku, Korea Selatan.
Saat sudah sampai
di sana, aku
langsung mendaftar sebagai
dosen di sebuah
Universitas di wilayah
Seoul. Teringat dengan
kata-katamu yang menyentuh
itu, membuatku juga
ingin menjadi guru.
Dan juga aku
sekarang sudah mualaf,
walau ditentang kedua
orang tuaku. Aku
menyadari saat kita
sedang belajar agama
Islam, hatiku sangat
nyaman dan hilang
akan kekhawatiran yang
selama ini terpendam
dalam hatiku.
Gomawo nae
chingu ^_^
If I
could see you
again…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar